Pendekatan belajar sambil bermain sejatinya adalah upaya untuk menyelaraskan kegiatan belajar dengan fitrah anak-anak yang masanya masih bermain.
Namun, menurut saya kadang kita, sebagai pendidik yang merasa anti-mainstream dan revolusioner ini, sedikit off side. Kita membahas kegiatan belajar seakan-akan itu adalah kegiatan yang menyiksa.
Kalimat-kalimat semacam "Di sekolah ini anak-anak merasa sedang bermain, padahal sedang belajar" mengimplikasikan bahwa belajar adalah sesuatu yang tidak cocok bagi anak-anak dan terasa melelahkan lagi membosankan.
Secara tidak langsung, pola pikir semacam ini sampai pada anak-anak. Sehingga, ketika guru memulai kalimat dengan "Hari ini kita akan belajar..." sinar wajah anak-anak tampak redup.
Jika dibiarkan, anak-anak akan memiliki hubungan yang negatif dengan kegiatan belajar. Belajar terasa tak ubahnya siksaan atau hukuman. Padahal, manusia adalah makhluk yang perlu belajar terus-menerus seumur hidupnya. Spesies kita bertahan karena mampu beradaptasi dengan perubahan yang cepat. Kita membuat baju karena terlahir tanpa bulu atau rambut tebal, membangun rumah untuk berlindung dari cuaca, dan bahkan menjadi makhluk yang menemukan api. Dan semua itu dapat kita capai setelah mengalami rangkaian pembelajaran: mengamati, mencoba, lalu memutuskan untuk memakai yang terbaik yang kita temuka. Belajar adalah bagian dari adaptasi tersebut.
Komentar